Muhasabah
Tentang Ujian
"Mukmin itu, jika diberi ujian dia bersabar. Dan jika diberi nikmat dia bersyukur"

Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat kebajikan (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya (QS. Al-Baqarah:286)
Ayat sempurna dari Ar-Rahman yang menjadi sebuah referensi bagi kita untuk terus yakin dalam menghadapi berbagai hal yang menghampiri, baik itu musibah ataupun nikmat. Sebab, baik musibah dan nikmat, keduanya merupakan ujian yang bisa menghantarkan kita kepada keburukan atau sebaliknya yakni kepada kebaikan. Saat musibah yang datang, menjadi bagian muhasabah, maka akan bertambah jarak kedekatan kita pada Allah. Sebaliknya, nikmat yang datang pun bisa men-jarak-kan kita dengan Allah. Karena kita seolah berpikir bahwa segala nikmat yang didapatkan, semuanya atas kerja keras dan ikhtiar kita semata. Pikiran seperti ini akan menghantarkan kepada kekufuran, dan ini hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang ingkar.
Mampu bertahan menghadapi segala perkara, bukanlah karena kekuatan diri kita. Bukan juga sebab kehebatan yang kita miliki, melainkan karena Allah. Maka bersyukurnya kita yaitu ketika musibah demi musibah yang ada, memperdekat jarak kita dengan Allah. Demikian juga dengan nikmat yang kita terima, ianya pun membuat keimanan kita semakin kuat.
Sebuah keyakinan yang terus kita tanamkan yaitu bahwa segala sesuatu yang terjadi biidznillah. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Maka saat sesuatu hal terjadi, tidak ada kata 'kebetulan'.
Qoddarullah wama syafa'ala
Jum'at, 2 Zulhijjah 1438 H/25 Agustus 2017
Wa ila rabbika farghob
Rabbana 'alaika tawakkalna
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-
Komentar
Posting Komentar